 |
| Pelabuhan Bitung |
Pelabuhan Bitung yang berlokasi di Kota Bitung, Sulawesi Sulawesi Utara, diapit Benua Australia, Benua Asia, Samudera Pasifik, dan Samudera Hindia, sehingga sangat strategis menjadi pintu gerbang untuk akses ke pasar Asia Pasifik (Asia Timur, Amerika dan Oceania). Pelabuhan Bitung yang merupakan bagian dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), terus dikembangkan menjadi pelabuhan internasional. Pengembangan Pelabuhan Bitung meliputi penambahan lapangan penumpukan peti kemas dan dermaga, serta fasilitas alat bongkar muat yang dilaksanakan pada tahun 2012 – 2015 dengan investasi Rp 6 triliun.
Pelabuhan Bitung dipergunakan terutama untuk mengirim produk jadi agar mendatangkan nilai tambah bila dibandingkan dengan ekspor bahan mentah ke sejumlah negara. Pengembangan Pelabuhan Bitung ini tentunya dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia, serta mengembangkan ekonomi kawasan timur Indonesia. Peningkatan ekonomi akan terjadi melalui pengembang-an industri-industri yang menjadi komoditas unggulan daerah Sulawesi, Maluku dan Papua, yakni ikan kaleng, minyak kelapa, cengkeh, dan vanili.
Di Pelabuhan Bitung terdapat terminal konvensional atau multiguna dan terminal peti kemas. Perbedaannya, terminal konvensional atau multiguna, selain mengangkut peti kemas, juga melayani angkutan barang lainnya serta penumpang. Sementara terminal petikemas, khusus mengangkut barang dalam kemasan petikemas. Kedua terminal ini terus dilakukan pengembangan secara bertahap pada tahun 2012 – 2015 dengan kebutuhan anggaran mencapai sekitar Rp 6 triliun.
Terminal konvensional yang ber-operasi 24 jam mempunyai panjang dan lebar alur pelayaran 9 mil x 800 meter, serta kedalaman laut 16 meter. Di terminal konvensional terdapat fasilitas tambatan terdiri dari tiga dermaga sepanjang 1.785 meter yang dapat didarati 3 buah kapal, lapangan penumpukan 42.767 m² yang dapat menampung peti kemas 70.000 twenty-foot equivalent units (Teus), gudang 13.392 m², terminal penumpang 2.554 m², lapangan parkir 2.394 m², bengkel 1.045 m², listrik 1.055 KVA, air bersih PDAM dan bunker BBM Pertamina 150 ton/jam. Fasilitas lainnya adalah alat apung 3 unit kapal pandu dan 3 unit kapal tunda. Juga terdapat fasilitas terminal penumpa-ng dua lantai, VIP room, ruangan kantor imigrasi, ruangan kesehatan pelabuhan, ruangan karantina, counter chek in PT Pelni, musholla, tempat menyusui, ruangan P3K, dan toilet. Terminal konvensional melayani kegiatan bongkar muat peti kemas dan kargo dengan dilengkapi sejumlah alat bongkar muat, 3 unit head truck, 2 unit truk tronton, 1 unit genset berkapasitas 500 KVA, dan lain sebagainya.
Jumlah barang yang masuk dan keluar di terminal konvensional tahun 2008 sebanyak 3,97 juta ton, 4,51 juta ton (2009), 4, 61 juta ton (2010), 4,29 juta ton (2011), dan 4,31 juta ton (2012). Sementara itu jumlah arus peti kemas tahun 2008 sebanyak 107,45 ribu twenty-foot equivalent units (Teus), 148,75 ribu Teus (2009), 166,24 ribu Teus (2010), 82,53 ribu Teus (2011), dan 94,75 ribu Teus (2012). Jumlah kunjungan kapal tahun 2008 sebanyak 6,3 ribu buah, 5,3 ribu buah (2009), tahun 4,6 ribu buah (2010), 3,1 ribu buah (2011), dan 3,7 ribu (2012). Sedangkan jumlah penumpang tahun 2008 sebanyak 503,5 ribu orang, 576,5 ribu orang (2009), 624,5 ribu orang (2010), 102,0 ribu orang (2011), dan 237,5 ribu orang (2012).
Saat ini di terminal konvensional tengah berlangsung pembangunan tambahan lapangan penumpukan peti kemas sepanjang 200 meter dan lebar 55 meter yang dapat menampung 1.000 kontainer. Dana yang digelontorkan untuk pembangunan lapangan penumpukan peti kemas tersebut sebesar Rp 8 miliar. Dengan adanya tambahan lapangan penumpukan peti kemas itu maka total panjang lapangan penumpukan di terminal konvensional adalah 42.967 m² dan dapat menampung peti kemas sebanyak 80.000 Teus. Penambahan lapangan penumpukan peti kemas secara bertahap hingga tahun 2015 dan panjangnya disesuaikan dengan lahan yang tersedia.
Sementara itu terminal peti kemas memiliki kedalaman laut 11 meter dan dermaga sepanjang 358,5 meter. Fasilitas bongkar muat yang terdapat di terminal peti kemas berupa 3 unit container crane, 11 unit head truck 11 unit, dan lain sebagainya. Fasilitas lainnya berupa gudang seluas 1.260 m², gedung workshop seluas 6.083 m², genset 1.300 KVA, dan lapangan penumpukan peti kemas 30.000 m² yang dapat menampung 70.000 Teus. Arus kunjungan kapal peti kemas di terminal peti kemas tahun 2008 sebanyak 113 buah, 165 buah (2009), 171 buah (2010), 163 buah (2011), dan 190 buah (2012).
Dewasa ini dalam proses pembangunan perpanjangan dermaga dari 358,5 meter menjadi 458,5 meter dengan anggaran Rp 80,9 miliar, di mana tiap tahun ditargetkan penambahan panjang dermaga 100 meter hingga tahun 2015. Saat ini dermaga didarati dua kapal besar berukuran 120 – 150 meter, dan jika perpanjangan dermaga selesai nantinya dapat didarati 5 kapal sekaligus. Pembangunan tambahan dermaga 100 meter itu telah mencapai 60% dan ditargetkan selesai akhir tahun 2013. Penambahan dermaga mendesak dilakukan agar antrian kapal tidak banyak, dan cepat dilakukan bongkar muat. Untuk bongkar muat membutuhkan waktu 2-3 hari. Seiring pengembangan dermaga juga akan ditambah alat bongkar muat berupa 2 unit container crane.
Negara-negara tujuan komoditi ekspor dari Pelabuhan Bitung adalah Eropa (Belanda, Inggris, dan Perancis), China, Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, Vietnam, India, dan Singapura.Komoditi unggulan yang diekspor adalah minyak kelapa dan bungkil kopra. Setiap tahun tidak kurang dari 725 ribu ton minyak kelapa dan 185 ribu ton bungkil kopra diekspor ke mancanegara. Adapun negara terbesar tujuan ekspor minyak kelapa adalah China yang mencapai 375 ribu ton disusul Eropa yang mencapai 206 ribu ton. Sementara untuk komoditi bungkik kopra negara dengan tujuan ekspor terbesar adalah Korea Selatan yang mencapai 87 ribu ton dan Vietnam mencapai 51 ribu ton.
Para pelaku usaha yang selama ini menggunakan jasa Pelabuhan Bitung menyambut gembira dengan adanya pengembangan Pelabuhan Bitung. Salah seorang di antaranya adalah Jefri yang bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pelayaran. Perusahaannya memiliki 24 buah kapal dan 5 kapal di antaranya beroperasi di Bitung yang khusus mengangkut peti kemas yang berisi kayu, kelapa, ikan kaleng, jagung, dan besi tua untuk dikirim ke Surabaya dan Jakarta. “Kendala yang selama ini dialami oleh pengusaha adalah masalah dermaga di terminal peti kemas yang ha-nya dapat disandari dua kapal, sementara kapal-kapal lain menunggu 2-3 hari untuk mendapat giliran bersandar. Sekarang sedang dibangun tambahan satu dermaga untuk satu kapal, sehingga tahun ini total dapat melayani 3 kapal. Saya berharap tahun ini dermaga baru ini dapat dioperasionalkan,” kata Jefri.
Pengembangan Pelabuhan Bitung untuk mendukung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung yang diprogramkan oleh Pemerintah. Kebijakan Pemerintah menjadikan Bitung sebagai KEK karena posisi geografis Bitung yang strategis, berada di jalur perdagangan dunia, dan menjadi simpul konektivitas nasional di wilayah Indonesia Timur yang berperan besar sebagai pusat distribusi barang dan penunjang logistik di kawasan Timur, serta berdampak positif terhadap perekonomian nasional. Memang keputusan yang strategis menjadikan Bitung sebagai KEK, karena daerah ini memiliki potensi besar sebagai pintu gerbang masuk Indonesia untuk perdagangan dengan negara-negara Asia Timur, Australia dan Amerika.
KEK Bitung bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Utara. KEK adalah kawasan khusus untuk industri dengan tawaran insentif khusus dari pemerintah kepada investor yang menanamkan modalnya dalam kawasan tersebut. Insentif dimaksud adalah keringanan Pajak Penghasilan (PPh), penangguhan bea masuk impor bahan baku produksi, dan pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM). Fasilitas lainnya adalah pengurangan pajak, seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), termasuk fasilitas pertanahannya. Investor yang menanamkan modal dalam KEK juga diberi kemudahan memperoleh hak atas tanah, demikian pula badan usaha yang telah memperoleh tanah di lokasi KEK.
Kesiapan Bitung untuk menjadi KEK ini didukung dengan adanya sejumlah infrastrukutur yang memadai serta akses yang begitu mudah untuk mendukung operasional kegiatan dalam kawasan. Pelabuhan Bitung misalnya, merupakan daya dukung yang luar biasa sehingga mempermudah kegiatan produksi maupun keluar masuk barang. KEK Bitung nantinya akan berfungsi bagi tiga kelompok industri, yaitu industri berbasis sumber daya alam Sulawesi Utara (dengan cakupan sekitar 20-25%), industri pengolahan ikan (40%) dan industri kemasan (40%).
Untuk mendukung Pelabuhan Bitung dan KEK Bitung, pemerintah juga akan membangun jalan tol Manado-Bitung sepanjang 39 km dengan lebar 60 meter. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mengalokasikan anggaran sebesar Rp 295 miliar untuk pembebasan lahan, dan saat ini pembebasan lahan telah mencapai 90%. Sedangkan anggaran pembangunan jalan tol sebesar Rp 4 triliun yang berasal dari pemerintah pusat Rp 1,1 triliun dan swasta Rp 2,9 triliun. Tender proyeknya dilaksanakan Oktober 2013, dan pembangunannya direncanakan dimulai Januari 2014. Saat ini waktu tempuh Manado – Bitung 2 jam, dan apabila jalan tol rampung akan mempercepat waktu tempuh menjadi 45 menit.
Nilai investasi tiga tahun terakhir di Sulawesi Utara tercatat sekitar Rp 8 triliun yang bergerak di bidang perikanan, pertanian, perkebunan, jasa, pedagangan, dan pariwisata. Berbagai pembangunan infrastruktur dan masuknya investasi menyebabkan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara meningkat meningkat dari 7,85% tahun 2009 menjadi 7,86% tahun 2012, di atas pertumbuhan ekonomi nasional 6,23%. Tahun 2009 angka pengangguran 10,56% dan turun menjadi 8,32% pada tahun 2012. Tahun 2009 angka kemiskinan 14,15% dan turun menjadi 11,66% pada tahun 2012.